Thyroid Journal 02: BPJS oh BPJS~

March 14, 2019

 ~pic: google.com
BPJS oh BPJS~ Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita~
Woy bukan, ini beneran BPJS buat kesehatan! 
Garink ya~ yauda emang ga pinter nge-receh aku tu :(

Ok, ok, we stop there la ya. Yuk seriusan dikit. As I mentioned before, setelah galau gundah gulana kebanyakan mikir enaknya gimana, akhir coba lah aku ke jalur BPJS. Thanks to my friends yang uda setia nemenin (iya, ortu-ku sibuk sampai segala sesuatu harus urus sendiri. Bahkan nama penanggung jawabnya aku isi nama temenku, lol). 

Awalnya, aku kira bakal ribet banget. Guess what? 
EMANG RIBET WOOOY.
(Ini diketik setelah aku kunjungan ketiga kali dan dibikin kesel sampai tensi naik, bok).

Sebelumnya aku memang tahu, yang namanya antrian BPJS rame banget karena banyaknya orang yang berobat tidak diimbangi sama sistem yang tersedia. Tapi tergantung kamu di puskesmas  dan RSmana, kebetulan yang kudatangan sistem antriannya tergolong bagus. Cukup sampai di puskesmas bagusnya. Datang jam 9an dapat nomor antrian 90an. Kebetulan banyak yang kosong jadi jam 12an aku uda kelar semua.

Jadi ya buat you pada yang ingin berobat via jalur BPJS, perhatikan point-point yang kujabarkan jangan sampai mengalami emosi jiwa seperti dedeque :(

Kurang lebih begini proses yang kulalui. CMIIW.
1. Daftar, bayar, dan pastikan kartu BPJS sudah aktif.
2. Datang terlebih dahulu ke puskesmas yang terdaftar sesuai dengan kartu BJPS kamu untuk daftar ulang. Atau biasanya sesuai dengan alamat yang tertera di KTP. 
3. Nah kenapa aku bilang ke puskesmas dulu? karena ternyata masih banyak yang belum tahu, malah langsung ke Rumah Sakit. Ga heran kalau ditolak. Sebelum dirujuk ke RS kudu untuk check-up dulu di puskesmas biar dokter bisa tentukan kira-kira kamu sakit apa dan ke dokter mana. 
4. Setelah kurang lebih dokter tahu kamu sakit apa, in my case, kemudian dia memberikan beberapa list rumah sakit yang bisa aku kunjungi / rujukan. Dimulai dari RS kelas C. Kalau di Kelas C ga bisa nanti naik lagi ke RS Kelas B dan seterusnya.
5. Setelah dapat surat RS rujukan, kamu bakal disuruh ke kasir buat dijelasin beberapa hal. Setelahnya, tinggal paraf dokter and you're done.

Di puskesmas masih singkat. Giliran RS, that's where the battle start. Kebetulan RS yang kupilih deket dari rumah dan RS veteran lah. Kalau ngomong sama ortu mereka bakal tahu. Kesalahanku ialah, aku ga cek ombak RS kayak gimana tapi untungnya saat di puskesmas aku uda diingetin buat persiapin beberapa dokumen penting yang wajib kudu aku copy banyak karena akan dipakai berulang kali:
1. KTP
2. Kartu BPJS
3. Surat rujukan
4. KK (buat jaga-jaga aja. Kalau aku masih belum kepakai tapi ada beberapa orang kepakai. Ga tau juga nih ya)
5. Surat baru lainnya yang didapat saat berobat seperti cek lab, surat keterangan, dsb. dicopy minimal 5 (lima) lembar

Semuanya sama pentingnya dan ga ada salahnya kalau fotokopi kebanyakan daripada bulak balik. Biasanya di RS ada tempat fotokopi dan bukanya pagi dan biasanya, dipastikan ramai. Daripada ngantri fotokopian mending duduk manis deket counter registrasi sambil tidur, lol. Anyway, siapin dokumen-dokumen masih tergolong gampang. Yang mulai ribet itu dan kudu diperhatikan itu:
1. Sistem antrian
Sistem antrian dari RS rujukanku itu tergolong tidak efisien. Kalau di puskesmas begitu datang langsung bisa ambil nomor antrian dari komputer. Jadi terpisah antara pasien baru dan pasien lama. Tapi sayangnya untuk RS ini, sistem antriannya masih manual dan nomornya berupa secarik kertas. Logikanya, counter buka jam berapa, antrian juga berbarengan dong? Or at least ada beberapa RS bisa via WA atau aplikasi. Nga, ini bisa ambil nomor sebelum counter buka. Bayangin pernah sekali aku datang jam 8 kurang nomor antriannya uda 90an. Datang jam 6an 50an. Akhirnya aku minta bantuan gosend jam 4 subuh, dapat nomor 03.

2. Jadwal counter registrasi
Counter ini, tiap kali datang buat berobat kamu wajib lapor dan seperti yang ku jelaskan diatas soal ambil nomor antrian. Jauh lebih baik kalau kita tahu counter buka jam berapa, lama kinerjanya dan sehingga kita bisa kurang lebih memprediksikan harus bersiap-siap atau ngambil nomor antrian jam berapa. Ga lucu donk, counter buka jam 7, nomor antrian kamu uda 90an, sedangkan dokternya cuman dari jam 8-12?

3. Banyaknya pasien/pengunjung
Kalau kamu di RS yang dimana antrian BPJS, non-BPJS, pasien lama dan baru dipisahkan, rest assure. Tapi kalau semuanya digabung, sebaiknya datang sepagi mungkin untuk dokter pagi, atau ambil nomor siang dan sisa-sisa nomor pagi untuk dokter siang. Aku pernah, lagi apes dokter pagi tetiba tidak datang dan harus dokter siang. Ngantri lagi dari awal, nunggu nomor siang. Karena konon katanya nomor pagi ga bisa daftar buat dokter siang. Eh, tapi pas lagi nunggu nomor siang satpamnya malah bilang ambil nomor pagi juga aja. Toh, mereka harus abisin nomor pagi. Greget ya bokk.

4. Jadwal dokter
Nah ini nih, pentingnya nomor antrian dan banyaknya pengunjung. Kalau dokternya praktek sampai jam 12 sedangkan kamu dateng jam 8 dengan nomor antrian 130an dan nomor yang dipanggil baru 50an, nyesek juga kalau ga bisa berobat atau ga bisa dipindahin ke dokter siang.

Yang paling penting, kalau kamu bawa anak atau orang tua, dan RSnya ramai, mendingan minta kurir/supir/gosend tolong ambilkan nomor antrian. Biasanya kalau uda berobat 2-3x pasti kamu sudah tahu kira-kira bagaimana. Kurang lebih diatas adalah point-point penting buat pasien BPJS. Semoga membantu buat pak-bapak dan bu-ibuk sekalian ya~
.

.

.
 photo sign_zpso5nm6vdu.png

0 comments

Subscribe