Thyroid Journal 01: Apaan Sih?

February 21, 2019

~pic: freepik
Since this gonna be a hell-ish long post, I'll type it in my mother language. Do feel free to translate it :)


Kalau uda ngikutin aku di sosmed pasti kurang lebih tahu belakangan aku nge-post tentang tremor pada tubuh dan kondisi badan yang cepat banget kecapaean, sehingga menganggu aktifitas sehari-hariku. Nah, keadaanku yang seperti ini sudah terjadi dari 2018 dan bisa dibilang tahun lalu adalah puncaknya.

Jadi dimulai sekitar bulan puasa 2018, aku ngerasa ga cuman badan jadi tambah lemes, cepet kecapean dan rambut semakin rontok, tapi gampang emosi, tidak sabaran, nafas pendek atau sedikit sesak nafas dan yang paling mengganggu, tremor pada seluruh bagian tubuh. FYI, semenjak kecil aku memang dari tremor kecil tapi itu masih tergolong normal, tergantung suasana hati saat itu apakah sedang grogi, atau tenang. Nah yang ini bedanya, bahkan untuk squat saja lutut aku getar banget, banyak pose yoga yang tidak bisa aku lakukan lagi. Ga kayak tahun 2014-2016.


Pada saat itu, orang-orang sekitarku sih bilangnya kurang olahraga, kurang gerak, kurang minum air, kurang kena matahari. Yah, bener dong, kayaknya 60% orang Jakarta begitu ga sih pola hidupnya? 

Keadaan ini semakin parah kalau aku ngerasa stress dan capek. Hingga ada satu titik aku benar-benar ga tahan dan konsultasi dengan teman yang kebetulan memang dokter dan dia tahu riwayat sakitku. Tahun 2018 merupakan tahun dimana hampir setiap bulan aku ke dokter dan bisa dibilang hingga Agustus, hidup, sehatku tergantung banget sama obat dokter. 

Dimulai dari sakit ringan seperti flu, hingga frozen shoulder dan cedera tulang ekor karena kelamaan kerja dan equipment yang tidak mendukung. Tahun itu pula aku mengenal yang namanya fisioterapi and I really recommend it daripada kesakitan mijet atau urut sana sini. BTW, ini pengalaman pribadi, ga maksud ngejelekin pijet. Aku sendiri suka kok mijet kalau badan merasa pegel. Dari sini aku belajar kalau sudah sakit sampai mengganggu aktifitas seperti ga bisa mandi dan gosok gigi, duh cepetan deh ditangani, jangan diulur pake obat peringan rasa sakit atau otot, dsb. Ada suatu ketika aku ke dokter yang ada dimarahin, mau dikasih obat sebagus dan mahalpun percuma kalau ga sayang diri sendiri dengan istirahat yang cukup dan penanganan yang benar, alias terapi. 

Well anyway, kukira sakitku sampai disana saja. Sudah terapi tapi tremor, nafas pendek dan yang lainnya kok ga ilang ya? Akhirnya Agusuts 2018 aku ke Chiropractic dekat tempat tinggal ku. Awalnya kupikir ini jangan-jangan ada hubungannya dengan syaraf dan ternyata guess what? Aku disuruh cek darah dan xray tulang ekor karena pada saat itu dokter masih mencari pemicunya, antara aku sakit tiroid atau syaraf kejepit. Syaraf kejepit sih kurang lebih aku agak-agak tahu ya, karena dulu papa juga pernah kena. Tapi tiroid? the only thing that I know about it ya, tante ku mau dari pihak mama dan papa pernah kena. Other than that, I got no clues. Since we live in Indonesia dan menurut kami penting banget untuk mencari second opinion, papa bawa aku ke shinse dan dokter syaraf. To our surprise, iya, aku ada syarat kejepit tapi dikit, masih sangat ringan tapi yang bikin aktifitasku terganggu ialah tiroidku yang ada efek samping melemahkan ginjal aku juga. Pada saat itu kita masing-masing uda research apa itu tiroid. Ada sedikit gambaran lah. Lalu, saat dokter dan bahkan sinshe suruh cek tiroid. Eng ing eng. . .

Oh iya, by that time, aku juga sudah resign dari pekerjaan utamaku karena berasa ga sanggup dan memutuskan buat kerja freelance di bidang digital dan EO. Ada sekali aku dapat tawaran yang mengharuskan aku seminggu 2x masuk kantor. Setelah pergi interview dan diterima, sepulang dari situ badanku tetiba drop banget sampai harus ke dokter lagi. Alhasil, kaget banget saat tahu bisa juga ya dokter keluarin surat untuk tidak boleh kerja atau pergi terlalu jauh. Intinya tidak boleh capek sedikitpun. Busyettt!

Cukup kesal dengan diri sendiri sih. Nga dink, kesel banget malah. Aku-pun juga uda nanya sana sini, bahkan teman-temanku yang dokter juga pelan-pelang ngejelasinnya aku harus bagaimana dan gimana. Teman-teman dekatku pun juga banyak yang berusaha menghiburku dengan cara ga bikin aku stress karena tiroid ini lebih sering terjadi pada wanita dibawah usia 40tahun dan faktor keturunan, stress pun menjadi pemicu terbesarnya. Kayak muka aja, terlalu stress keluar jerawat kan? bedanya ini uda stress berat sampai semua racun atau penyakit yang ada keluar.

Anyway, we're down to our last option buat cobain jalur BPJS. Karena kalau berobat sendiri, tiroid ini butuh kontrol dokter dan obat dalam jangka waktu yang cukup lama. Biayanya? dedeq takut tak sanggup, putus ditengah jalan, lol.

Nah, aku ringkas ya, berikut kondisi badanku selama beberapa bulan:
1. Tremor pada seluruh bagian tubuh
2. Suhu badan lebih tinggi daripada orang normal
3. Gampang kepanasan
4. Nafas pendek / gampang capek
5. Jantung berdebar-debar
6. Tangan gampang keringatan
Kalau 3 dari 6 hal diatas terjadi pada kalian, better make an appointment with your doctor deh! 

Baru tahun 2019 ini kok, aku putuskan buat benar-benar berobat. Takut? iyah. Semua rasa campur aduk deh. Saat ngantri BPJS-pun aku minta ditemenin temenku. Kurang lebih begitulah intro mengenai sakitku. Yep, aku akan membuat postingan seputar berobatku  kedepannya dengan harapan bisa menjadi sedikit berguna buat orang-orang clueless macam aku.

.
.
.
 photo sign_zpso5nm6vdu.png


0 comments

Subscribe